#FridayTalk: Mengapa Buruh Migran Betah di Hong Kong?

March 8, 2019

Ketika mendapat kesempatan untuk bermukim/ tinggal di Hong Kong dan melihat kenyataan bahwa ternyata buanyak banget orang Indonesia di Hong Kong (bahkan seolah-olah pulau Jawa pindah ke Hong Kong di hari tertentu - saking banyaknya orang Indonesia di HK), membuat aku bertanya, "Mengapa BMI (Buruh Migran Indonesia) betah di Hong Kong?"

Tentu saja pertanyaan seperti itu udah sering aku tanyakan ke suami. Nah, setelah kurang lebih 2 tahun di Hong Kong dan ketemu bermacam-macam mbak-mbak BMI baik secara sengaja atau ga sengaja, jadi tahu kenapa mereka memilih untuk rela jauh dari suami/anak/ keluarga di tanah air dan mencari rezeki di HK (terlepas dari segala ups and downs selama mereka kerja di HK). 

Triggernya sampai bikin tulisan ini, karena di suatu siang saat akan berangkat mengantar Zayd sekolah, di dalam lift apartemen aku bertemu dengan salah satu mbak-mbak. Mbak ini cukup sering wira wiri mukanya alias cukup sering ketemu di lobby apartemen. Pas aku masuk lift, mbaknya senyum-senyum sambil main hp dan nyapa Zayd. "Why you always carried by Mommy?". Terus Zayd langsung melengos ngumpetin muka di bahuku. "Understand Bahasa Indonesia kan le?" kata mbaknya. Aku jawab "sure". Kemudian biasalah basa-basi dikit, nanya mau kemana dan lain lain. Eh keterusan jalan bareng ke halte (doi mau ke pasar) karena kebetulan arah halte bus dan pasar searah. 

Mbaknya nanya aku udah berapa lama di Hong Kong dan tentu saja aku balik nanya. Dia jawab "Wah, saya mah udah 20 tahun di sini" dan tiba-tiba jiwa kepo jurnalis  ku secara alamiah keluar 😂 dan ahamdulillahnya jiwa informannya doi juga keluar, cucok ya khann hahaha.


  • Perlindungan hukum dan aturan yang jelas oleh Pemerintah setempat.

Hong Kong ini negara kapitalis yang benar-benar sedetail itu dan tegas dalam membut aturan. Semua-mua nya diatur termasuk hak dan kewajiban pekerja di HK. Hm, gausah hak dan kewajiban pekerja deh, mau naro palang air di rumah sendiri aja ada aturannya 😅. Ini yang membuat angka kriminalitas di HK cukup kecil diantara negara maju lainnya. (Source)

Bokkkk, di sini orang jarang berantem fisik. Paling banter kalau berantem ya perang klakson di jalan atau ya teriak depan-depanan satu sama lain. Karena kalau sampai menyentuh atau melukai orang lain, dosanya besarr kalo di HK mah. Seluruh penduduk HK tau itu, bisa berabe kalau berurusan sama kepolisian.

Begitu juga halnya dengan buruh migran di HK. Dalam hal pekerjaan, mereka punya hak libur satu hari dalam seminggu. Kalau engga libur, ya berarti majikan harus nambah uang lembur. Selain itu pemerintah HK juga mengeluarkan tanggal-tanggal libur untuk para buruh migran dalam setahun. Jadi para majikan harus mengizinkan mereka off kerja di hari-hari tersebut. Kalau sampai hak mereka tidak bisa dipenuhi oleh majikan, ya siap siap aja si majikan kena tegur pemerintah. Begitu juga sebaliknya. Kalau si pekerja ini macam-macam, ya pasti ada konsekuensinya. Ini lah yang membuat buruh migran betah di HK, hukum dan aturannya jelas. Pemerintah memandang buruh migran ini sebagai pekerja, sama dengan pekerja lain non ART.


  • Penghasilan

Di luar administrasi agen penyalur buruh migran yang ribet kalau dijelaskan di sini (selain itu juga aku ga paham banget sih soal agen penyalur di HK 😅), adanya standar minimum gaji yang cukup tinggi (jika dikurskan ke Rupiah) dibandingkan bekerja di negara lain juga membuat buruh migran memilih HK jadi negara tujuan. Upah minimum mereka perbulan (cmiiw) adalah HKD 4.520. Nilai tersebut sudah sepaket dengan skill buruh migran (Sebelum mereka terjun ke HK, para agen memberikan pelatihan seputar kerumah tanggaan, bahasa, masak, dsb). Jadi masuk ke HK dan terjun kerja ga bingung mau ngapain. Pengalaman semakin banyak, yang dikerjain juga makin kompleks, skill juga lebih banyak, bisanya gajinya akan di atas itu.

Oiya, buruh migran di Hong Kong juga punya jobdesc yang ga bisa diganggu gugat sesuai dengan kesepakatan di awal dengan majikan. Misalnya si X dihire ngurusin orang tua, yaudah mereka ngurusin orang tua aja tuh, mulai dari kepala sampai ujung kaki, dari bangun tidur sampai tidur malem lagi. Ya walaupun banyak juga yang memfleksibelkan diri.

Nah, gaji HKD 4.520 ini menurut beberapa informan cukup banget untuk menabung dan dikirim ke keluarga di kampung halaman. Bagaimana engga, mereka hidup bersama majikan dan majikan diwajibkan memenuhi kebutuhan (dasar) mereka. Jadi istilahnya, untuk hidup di HK temen-temen buruh migran gak perlu mengeluarkan biaya. Jadi, gajinya bisa diatur dan dikirim ke keluarga di kampung halaman.


  • Majikan yang super judes dan galak tapi baik.

"Saya sama yang ini sudah sembilan tahun dan iya bener kalau orang C udah percaya sama orang, dia akan loyal banget dan percaya. Kayak saya, sekarang yang ngatur rumah majikan itu saya, majikan saya suka tugas keluar negeri, saya jadi resah kasian anak-anaknya. Saya juga udah capek kerja, pengen pulang ke Indonesia tapi gak boleh sama majikan. Tapi memang menurut saya enakan kerja sama orang lokal daripada kerja sama orang Indonesia di sini hehe, apalagi orang M (disensor aja ya buibu), karena maaf ya bu (Sambil ketawa) orang M yang di sini suka ngerendahin orang Indonesia. Padahal negara tetangga, satu rumpun tapi sedih banget sampai segitu direndahkannya"
"Hmm.. kayaknya ga cuma org M deh, rata-rata org kita banyak yang dipandang sebelah mata sama yang lain"
"Iya bu memang, tapi kalau orang M ini kebangetan deh.. makanya mending saya cari orang lokal aja. Tapi ya ga semua sih, rata-rata gitu. Tergantung rejeki. Tapi kalau sama orang lokal, mereka memang keras tapi kalau udah percaya ya jadinya baik banget. Yah gimana kitanya lah, harus pinter-pinter. Sebaliknya, kalo misalnya kita bikin kesalahan kecil aja, udah deh bener-bener ga kepake lagi sama mereka". 



Kurang lebih seperti itu lah insight mengapa para buruh migran rela jauh-jauh kerja di HK. Tapi mau sampai kapan perempuan harus pergi jauh dari keluarganya dan kerja di negara lain 😭 kasian sih sebenarnya. Ya selain tuntutan hidup, kerja di dalam negeri pun susah. Coba deh kalau kita tengok di dalam negeri, udah ada kah aturan untuk pekerja domestik seperti asisten rumah tangga ini? Selain itu, kebanyakan orang di dalam negeri masih berpikir kalau pembantu ya kastanya di bawah. Dan ga ada standar gaji untuk mereka.  Tapi di sisi lain, kalau pun ada standar gaji apakah kita rela bayar gaji mereka sesuai standar yang berlaku? Kalau bisa mah dapet asisten rumah tangga yang bisa ngerjain A sampai Z tapi gajinya dipress banget, tak ada libur pun. Heheh.. kayaknya ga yakin sih ART dan pengguna jasa ART di dalam negeri siap kalau pemerintah ikut campur dalam hal ini. Belum lagii, mbak-mbak ART ini kadang ada yang nyeleneh. Ya di HK juga ada sih yang nyeleneh tapi ya balik lagi, kalau nyeleneh macem-macem bisa langsung ditindak oleh pemerintah.

Ya memang sudah mulai beberapa penyalur yang mematok gaji sesuai dengan skill dan kemampuannya dan ya mungkin sudah ada aturan mengenai ART ini, tapi apakah sudah dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku?





No comments

Post a Comment

Thank you for your visit and comment!

Copyright © PUPUT UTAMI. Blog Design by SkyandStars.co