MENU

September 2, 2018

Menyapih


Haloo semua! selamat datang kembali di blog nya Puput Utami. Kali ini mau ceritain soal gimana proses penyapihan anakku, Zayd. Sesuai permintaan pemirsa di instagram, tulisan mengenai "disapih" ini akan aku ambil dari sudut pandangku tapi dari dua sisi: dari sisi sebagai emak ngeliat anaknya yang lagi disapih, dan dari sisi sebagai emak yang harus berjibaku (?!) dengan kondisi fisik saat proses penyapihan tersebut. Di sini, gue ga ada niat sok tau atau apa, murni karena pengen sharing aja. Siapa tahu bermanfaat buat yang baca hehehe.


Mudik lagi ke Jakarta


kalau gak mau baca part ini boleh skip ya 😆, karena hakikatnya part ini dibuat buat kenang-kenangan dan pengingat akuhh kalau nanti insyaAllah punya anak lagi.

Setelah kurang lebih sebulan seminggu kita balik dari mudik ke Indonesia, tiba-tiba abang suami dapat kabar kalau beliau lulus seleksi program training dari kantornya, dimana mengharuskan dia untuk mengikuti rangkaian training tersebut di Ibukota tercintah, Jakarta. So far, jadwalnya tuh dia bakal ke Jakarta tiap bulan selama 2-7 hari dari bulan Juli sampai akhir periode training tersebut berakhir. Alhamdulillah happyyy dengan achievement tersebut tapi di waktu yang bersamaan sedih jugaa bakal ditinggal seminggu berduaan sama Zayd di HK, meanwhile abang suami di Jakarta ya khaan.

Terus gue berfikir, ya Alloh sedih amat berduaan sama Zayd selama seminggu terus pasti yang jenuh gitu ya kan. Apalagi waktu itu kondisi gue lagi gak fit dan kalaupun bisa kemana-mana gue capekk kalo mesti gendong Zayd hiks his, seandainya anakku ini mau diletakin di stroller mungkin Ibuk akan lebih setrongg. Selain itu kami lagi puasa gadget dan TV untuk Zayd (dan orang tuanya tentu saja) karena progress bicaranya masih dikit banget (alhamdulillah setelah puasa gadget dan TV amazingly Zayd perlahan mulai cerewet  😭 jahara kamu tipiii). Akhirnya dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan yang lain-lain, diputuskan untuk ikut ke Jakarta sampai training si abang suami di Jakarta dan negara lain selesai. 

Nah, kami berfikir mumpung di Jakarta, sekalian lah ambil program "nyapih" mumpung di Jakarta ini ada Kai (kakek) dan Uti (Nenek) nya yang mana kalau ketemu Kai dan Utinya ini, Zayd bisa lupa sama Ayah Ibunya 😅 bhaiikkk. Akhirnya sesampainya di Jakarta, kami utarakanlah program-program selama stay di Jakarta beberapa minggu ke depan kepada Kai dan Uti nya Zayd. Bismillah...

Biji Mahoni 


Minggu pertama di Jakarta, Uti carikan biji Mahoni yang katanya ampuh bikin si anak gak mau nenen lagi. Sebenernya gue ga mau cara cara pait begini, tapi melihat Zayd yang sangat teramat nempel dengan nenen, jadi yasudah ngikutin sarannya Uti pakai biji Mahoni yang dicampur dengan air dan dioleskan di area put*ng. Uti dan Nenek (mamanya abang suami yang kebetulan juga lagi di Jakarta waktu itu) wanti-wanti kalau Ibunya kudu tega, biar anaknya gak setengah-setengah dan berakhir gagal nyapih. Selain itu beliau juga mewanti-wanti kalau ibunya bakal demam meriang karena PD nya akan bengkak akibat ASI yang gak dikeluarkan karena sedang menyapih si anak. 

Begitu biji Mahoni di tangan, kami tentukan kapan si anak lanang ini mau disapih. Begitu hari H, kuoleskan biji Mahoni yang sudah ditumbuk dan dicampur sedikit air di area put*ng (sebelumnya aku icipin si biji Mahoni ini, beneran pait apa engga dan emang beneran paittt buibu 😓). Dengan setengah hati antara tega ga tega, begitu Zayd minta nenen, aku kasih PD yang sudah dioleskan biji Mahoni. Bagaimana reaksi Zayd?

Begitu lep, dia langsung berhenti dan melepaskan put*ng ku, dirasa-rasa, kemudian dilep lagi lancarrrr hahahaha gagal pemirsahhh. Terus aku mikir, mungkin karena kurang banyak kali yakk.. sesi nenen selanjutnya aku olesin lagi lebih banyak , tapi again.. gagalun. hehehe (emaknya seneng karena gagal hahaha).

Jadi, tanggal startnya itu tanggal 27 Juli dan dalam seharian itu Zayd aku bikin sibuk dan makan banyak, sempet playdate pulak. Progressnya dari hari-hari biasa, Zayd cuma 4x nenen dari bangun pagi sampai waktunya tidur malem (biasanya dikit-dikit minta nenen). Tanggal 28 Juli dini hari, suami baru pulang dari training sekitar pukul setengah satu pagi bertepatan dengan jam bangunnya Zayd buat minta nenen. Berusaha istiqamah gak kasih nenen lagi, Zayd jadi ngamuk nangis nangis sampai jam dua pagi minta nenen. Ditepok-tepok  dan digendong gak mau. Akhirnya karena emak lelah, dicampur ngantuk, dan ayahnya juga udah capek banget pulang training, yaudah dikasih aja nenen sampai Zayd tertidur. Dan tanggal 28 Juli pukul 2 pagi ini lah kali terakhir Zayd berkasih-kasih dengan sahabatnya yang telah menemaninya kurang lebih selama 2 tahun kurang 17 hari. Fyi, tanggal 26 Juli 2018 kemarin jatuh di tanggal 13 Dzulkaidah yang mana pas banget tanggal lahirnya Zayd dalam kalender Islam. Jadi sehari setelah hari lahirnya, Zyad langsung disapih.

Tanggal 28 Juli siang, rencananya Zayd mau trial di salah satu sekolah gymnastic di sebuah mall. Tapi tak kusangka, sesampainya di TKP Zayd menolak masuk ke sekolahnya, sampai terjatuh dan nangis ngejerlah dia. Nah, biasanya kan kalau nangis, pelariannya pasti nenen. Karena lagi disapih, suamiku langsung bawa nenangin Zayd jauh-jauh dari aku. Sedihhh tapi ya mau gimana lagi. Kalau dikasih lagi, akan dipastikan gagal lagi. Alhamdulillah untungnya Zayd mau minum susu UHT. Jadi, pas dikasih UHT langsung tenang 😢 sambil dialihkan perhatiannya.

Gak lama, bala bantuan datang.. Papa Mama dan adikku datang, otomatis Zayd lebih milih sama Kai dan Uti ketimbang berlama lama sama Ibu dan Ayah hahahah. Baikkk.. gapapa, Ayah sama Ibu bisa gandengan tangan sejenak di mall, itung-itung flashback masa-masa dunia masih milik kita berdua (yang lain ngontrak sis).

Pisah Ranjang


Berhubung kalau malam Zayd suka kecarian nenen, maka diputuskan Zayd tidur sama Kai dan Uti instead tidur sama Ayah dan Ibu. Tadinya aku ga tega dan ga enak sama Kai Uti karena pasti ganggu waktu istirahat beliau. Pas mau ngambil Zayd ke kamar Kai Uti tiba-tiba belom ngetok pintu kamar udah denger bunyi "Klik", yak.. kamarnya dikunci. Jadi malam itu Zayd tidur sama Kai dan Uti. Pisah ranjang ini berlangsung kurang lebih dua minggu. Menurut cerita mama,  ada lah saat-saat bangun kecarian tapi pas tau Ibu nya gak ada (yang ada Kai dan Utinya) jadi ditepok-tepok dikit langsung lanjut bobo lagi sampai pagi. 

Tentu saja selama dua minggu itu gak selalu mulus, pemirsa. Ada kalanya Zayd nangis meraung-raung dan GONG nya minta ke luar rumah jam 2 pagi 😙 mending keluarnya di teras atau di pager doang, Zayd minta jalan sampai gapura komplek 😓 Usut punya usut, karena biasanya zona nyamannya Zayd adalah nenen Ibunya, pas dipisah, dia cari-cari "nyaman" yang lain, ya salah satunya jalan-jalan ke luar rumah tengah malem hahaahahah. Sampai akhirnya, nemu cara efektif biar Zayd ga minta keluar tengah malam dengan cara (terpaksa) dinyalain youtube sambil disuapin makanan/ rerotian sebagai pengganti nenen. Gak perlu lama-lama, lampu kamar kembali dimatikan, Zayd paham kalau udah harus tidur lagi, dimatiin youtubenya, kemudian kembali tidur sampai ayam berkokok. 

Nah, gimana dengan bobo siang? 

Karena kalau siang cuma aku berduaan sama Zayd di rumah, harus cari cara biar Zayd ga nenen. Mamaku udah wanti-wanti jangan sampai aku lengah dan Zayd punya kesempatan untuk nenen sendiri. Jadi triknya, kalau udah diliat dia udah rungsing, langsung digendong dan kepalanya ditemplokin ke bahuku. Alhamdulillah kalau digituin dia langsung tidur. Atau kalau digendong ga mempan, aku bawa Zayd ke depan piano, sambil aku pangku aku mulai mainkan piano sambil nyanyi-nyanyi lagu-lagu kesukaan Zayd sampai doi telerr. Kalau udah teler, langsung ditaro di tempat tidur.

Pay*dara Bengkak


Beberapa orang yang aku ajak share bilang kalau saat menyapih, siap-siap pay*daranya bengkak dan ibunya akan meriang-meriang. Beberapa lagi bilang alhamdulillah tidak melewati fase meriang-meriang karena menyapih dilakukan secara berangsur-angsur. Nah, aku -kalau bisa- pengennya ga mau pake meriang or pay*dara bengkak segala. Kapok deh aku pernah bengkak waktu awal-awal menyusui pasca lahiran. Kebetulan waktu itu produksi ASI ku sepertinya banyak, tapi Zayd mimi nya masih dikit. Itulah kenapa aku gak mau peristiwa yang sama terulang untuk yang kedua kali. 

Untuk itu, aku sempat bikin gambaran abstrak di otakku tentang bagaimana menghindari yang namanya meriang dan pay*dara keras (+ bengkak) pada saat proses penyapihan. Dan kuncinya  cuma satu: pumping/ pompa

Produksi ASI itu sifatnya supply=demand. Artinya semakin banyak permintaan ASI (semakin sering si bayi nenen atau semakin sering Ibu pumping) semakin banyak pula ASI yang diproduksi. Nah, hal tersebut berlaku juga sebaliknya. Kemudian, kenapa pay*dara bisa jadi bengkak? karena ASI yang telah diproduksi tidak dikeluarkan/ disusui. Lalu bagaimana caranya agar pay*dara tidak bengkak saat menyapih? Caranya dengan memompa saat pay*dara mulai terasa agak kenceng. Karena alat pompaku udah ga tau kemana (udah setahun lebih ga pumping) jadi, keluarin ASI nya pakai metode mermet aja (silahkan googling ya!).

Alhamdulillah saat proses menyapih ini, aku nggak mengalami yang namanya PD bengkak atau bahkan sampai meriang-meriang.

Perlu diperhatikan


Hal-hal yang perlu diperhatikan saat akan menyapih versi pupututami adalah :

  1. Jauh sebelum hari H, kurang lebih 6 bulan sebelum usia Zayd dua tahun, aku sudah sounding kalau Zayd sebentar lagi sudah 2 tahun, sudah besar, sudah gak nenen lagi, sudah tambah pinter, dan sebagainya. Dan kegiatan ini sifatnya repetitif a.k.a diulang-ulang. Jadi setiap lagi nenen atau anaknya lagi happy, atau lagi tidur aku selalu sounding ke Zayd. Walaupun gak jarang muka Ibu digaplok waktu Ibu lagi nenenin Zayd dan ngomongin soal stop nenen ini. hahahah maap ya nak!
  2. Tentukan waktu yang tepat saat akan menyapih. Pastikan saat menyapih kondisi ibu dan anak sehat dan sebisa mungkin suasana saat menyapih kondusif. Semua anggota keluarga harus kompak saat proses ini.
  3. Ibu harus niat, tulus ikhlas, siap mental dan harus tega! walaupun sebenernya ga tega, tapi kalau ibunya ga tega dan support systemnya ga tegaan juga, bakal susah menyapihnya. 
  4. Usahakan ada orang lain selain Ibu yang bisa menjadi tempat nyaman bagi anak. Karena yang uring-uringan saat menyapih ga cuma Ibunya, tapi nyatanya si anak juga lebih uring-uringan. Misalnya, ayah atau kakek neneknya. Again, support system itu penting yaa.
  5. Hindari menggunakan pakaian breast feeding friendly atau baju-baju yang sering dipakai Ibu saat menyusui buah hati. Poin ini ngefek banget di aku. Karena Zayd ini kan udah pinter banget kalau mau nenen, udah tau banget lah celahnya. Jadi ketika baju Ibunya beda (ga bolong kanan kiri, ga ada resleting atau kancing depan dan sebagainya), dia udah mulai susah tuh mau nenen. Aku nyaranin pakai pakaian yang berkerah tinggi, bahannya gak gampang melar (misalnya  kaos yang kerahnya bisa ditarik-tarik) dan panjang minimal selutut.  ampuh! Atau kalau perlu pakai baju berlapis yaa buibu.
  6. Ikuti apa yang anak mau, sebagai pengalihan. Karena anak yang lagi disapih itu berasa gak disayang, jadi orang tua harus ekstra sabar dan tambah perhatian buat anak yaa.. bikin anak merasa nyaman. Ya kalau misalnya biasanya gak boleh nonton youtube, karena lagi disapih, yaudah bolehin lah dulu.. tapi tetap dalam pengawasan. Kalau aku, banyakin main di luar aja hehe
  7. Dalam proses menyapih ini pasti ada drama-dramanya, jadi harus sabar, tetap tenang dan positif thinking.

PR selanjutnya adalah potty training dan kenaikan bb. wish us luck!

Salam,
Puput Utami

2 comments :

  1. Salam kenal puput. Seru bacanya. Jd flashback proses sapih anakku sebulan lalu. Tips no 5 setuju banget. Daster2 disimpen dulu dan ampuh anaknya ga tergoda mnt mik nenen. :-))

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal mbak ely hihihi terima kasih sudah mampir :)

      Delete

Thank you for your visit and comment!