Daily Style

Daily Style
Daily style, ootd, fashion inspiration, and etc

Personal Life

Personal Life
About the wedding, family, being a mum, being a wife, etc

Lifestyle

Lifestyle
reviews, youtube update, lifestyle update, socmed update, travel, skincare, beauty, etc

Thoughts

Thoughts
My thoughts about everything, quotes, etc

Tai O - Fishing Village

April 22, 2019

No comments

Selamat datang di kampung nelayan nya Hong Kong, Tai O - Fishing Village. Kalau di Jakarta yaa kurang lebih dikit semacam Muara Angke hehe. Tadinya gak ada rencana mau ke Tai O, malah pengen jalan-jalan aja keliling daerah Central yang penuh dengan lukisan-lukisan artistik di tembok-tembok bangunan. Tapi kami berdua (aku dan suami) agak mager kalau kudu gendong Zayd menyusuri Central yang jalannya naik turun tak menentu. Fyi, anakku gak mau duduk di stroller dan jalan sendiri kalau keluar rumah kecuali ke Playground 😅. Kemudian, sudah lewat adzan dzuhur suami langsung ngajak ke Tai O yang letaknya ada di Lantau Island.

Sebenarnya kalau mau gampang bisa sih naik MTR dari rumah sampai ke stasiun MTR Tung Chung. Tapi kami pikir-pikir naik MTR sudah biasa, jadi sekali-kali nyobain naik kapal cepat atau First Ferry aja kali yah, cuma 45 menit dengan biaya tiket 44,9 HKD dari Central/ Ferries Harbour, ambil harbour nomor 6 jurusan Mui Wo (Lantau Island). Alhamdulillah cuaca saat itu lagi agak mendung tapi cukup cerah tanpa hujan. Cuma satu kekhawatiranku, anakku mabok! Alhamdulillah selama kami ajak naik kapal boat ga pernah mabok sih, tapi kali ini khawatir aja secara udah gede dan udah paham sama perasaan perasaan (ngerti ya maksudnya 😂), alhamdulillahnya sih selama perjalanan dari Hong Kong island ke Mui Wo (Lantau Island) aman sentausa.

Sampai di Mui Wo, kami langsung cari bus no. 1 jurusan Tai O. Berbeda dengan bis yang ada di Hong Kong island dan Hong Kong bagian Kowloon yang bisnya model bis bertingkat , di Lantau Island ini bisnya seperti bis pariwisata biasa, jadi muatan penumpanganya juga terbatas. Oiya, di Lantau ini kita gak akan ketemu sama taxi merah ciri khas Hong Kong, karena area Lantau ini Taxinya berwarna biru. Perjalanan dari Mui Wo ke Tai O lumayan panjang, naik turun dan berkelok-kelok, khawatirku sama kayak pas naik Ferry, takut anakku mabok heheh. Alhamdulillah selama perjalanan Zayd tidur. Oiya, Mui Wo ke Tai O kurang lebih 45 menit juga.

Akhirnya, inilah Tai O - Fishing Village!




Turun dari bus no. 1 kami diberikan pemandangan laut yang sisi sisinya dibatasi oleh bukit-bukit hijau, agak bau amis begitu masuk kampung nelayannya, tapi gak menyengat. Kalau kata orang madura wanginya seddhe' 😂. Dari pintu masuk menuju Fishing Village nya ini, sudah banyak orang-orang menawarkan jasa kapal boat mengelilingi Tai O - Fishing Village dari sisi laut. Harganya 30 HKD per orang selama 20 menit. Bonusnya, kalau beruntung bisa lihat lumba-lumba langsung di laut. Setidaknya begitu menurut baliho yang ada di depan pintu masuk Tai O - Fishing Village ini. Naik kapal boat mengelilingi Fishing Village ini cukup memanjakan mata, melihat sisi lain Hong Kong yang serba festive sungguh menyegarkan hati, mata dan pikiran. Yang menarik, laut di Tai O - Fishing Village ini bersih dan tak ada sampah yang berarti. 

Di rumah-rumah nelayan di Tai O - Fishing Village ini pun terselip beberapa cafe cafe atau rumah makan kecil, untuk wisatawan yang ingin menikmati pemandangan Tai O - Fishing Village sambil menyeruput kopi atau menikmati snack seafood. Setelah puas keliling Tai O - Fishing Village dari sisi laut, kami berjalan menyusuri rumah-rumah penduduk yang kebanyakan menjual berbagai macam produk laut, dari ikan segar, ikan asin, souvenir dan snack seafood yang sayang sekali kami gak berani coba 😅









Mau foto ala Mega Iskanti kok ya susah amat *tepok jidat

Setelah puas keliling Tai O - Fishing Village kami bergegas ambil antrian bus untuk kembali ke Hong Kong Island. Gak makan waktu banyak di Tai O - Fishing Village ini, cukup 120 menit termasuk ngemil-ngemilnya dan foto-foto, setelah itu mau dilanjut ke tempat yang lain juga bisa. Wisata yang dekat dengan Tai O - Fishing Village ini salah satunya Ngong Ping, hanya sekali naik bus.  Nah, rencananya kami mau pulang lewat Tung Chung, naik MTR. Tapi karena melihat antrian bus ke Tung Chung ini sangat mengular, jadi kami putuskan kembali menuju Mei Wo untuk naik Ferry. Alhamdulillah perjalanan lancar dan pukul 19.30 HKT sudah mendarat manis di rumah. Kilat sekali perjalanan kami hari ini, gak ada setengah hari hihihi. 

See you in the next travelling post!

Puput Utami & fam 😘
Read More

New Keliling Hong Kong Vlog

April 18, 2019

No comments

New vlog is ready to watch in my youtube Channel! Alhamdulillah setelah lama nonton Food Ranger vlog di Youtube dan kabitsa sama mie enak nan halal, akhirnyaaa release jua restoran noodle halal yang rasanya PAS di lidahku. Usut punya usut restoran ini asalnya dari negeri China sana jadi rasanya lebih pas di lidah bumbu kayak aku ini. Sedangkan biasanya, kebanyakan mie halal yang ada di HK adalah khas Kantonis yang minim bumbu. Sekalinya berbumbu sayangnya ga cocok di lidahku hehe. Nah yaudah langsung aja yaaa nonton vlog ku yang ini pas nyobain noodle halal yang baru launching di HK Island.

Love,
Puput Utami
Read More

Dapur Ngebul First Collab on YouTube

March 25, 2019

No comments


Memberanikan diri untuk join collab masak-masa di YouTube ketika salah satu teman vlogger nawarin mau ikutan collab di YouTube apa engga. hahaha masyaAllah.. tadinya mah ogahh, secara kemampuan masak-memasakku masih dalam tahap sangat teramat pemula dan tingkat kesuksesan memasak ku ditandai dengan suami yang nambah pas makan, atau anak gak ngelepehin masakan yang aku buat. Itu juga udah alhamdulillahh yahh sesuatuu. Yaudin cuss mari kita nonton aja sespesial apa nasgor andalan versi Puput Utami? dan apakah approved by pak Suami?
Read More

#FridayTalk: Mengapa Buruh Migran Betah di Hong Kong?

March 8, 2019

No comments
Ketika mendapat kesempatan untuk bermukim/ tinggal di Hong Kong dan melihat kenyataan bahwa ternyata buanyak banget orang Indonesia di Hong Kong (bahkan seolah-olah pulau Jawa pindah ke Hong Kong di hari tertentu - saking banyaknya orang Indonesia di HK), membuat aku bertanya, "Mengapa BMI (Buruh Migran Indonesia) betah di Hong Kong?"

Tentu saja pertanyaan seperti itu udah sering aku tanyakan ke suami. Nah, setelah kurang lebih 2 tahun di Hong Kong dan ketemu bermacam-macam mbak-mbak BMI baik secara sengaja atau ga sengaja, jadi tahu kenapa mereka memilih untuk rela jauh dari suami/anak/ keluarga di tanah air dan mencari rezeki di HK (terlepas dari segala ups and downs selama mereka kerja di HK). 

Triggernya sampai bikin tulisan ini, karena di suatu siang saat akan berangkat mengantar Zayd sekolah, di dalam lift apartemen aku bertemu dengan salah satu mbak-mbak. Mbak ini cukup sering wira wiri mukanya alias cukup sering ketemu di lobby apartemen. Pas aku masuk lift, mbaknya senyum-senyum sambil main hp dan nyapa Zayd. "Why you always carried by Mommy?". Terus Zayd langsung melengos ngumpetin muka di bahuku. "Understand Bahasa Indonesia kan le?" kata mbaknya. Aku jawab "sure". Kemudian biasalah basa-basi dikit, nanya mau kemana dan lain lain. Eh keterusan jalan bareng ke halte (doi mau ke pasar) karena kebetulan arah halte bus dan pasar searah. 

Mbaknya nanya aku udah berapa lama di Hong Kong dan tentu saja aku balik nanya. Dia jawab "Wah, saya mah udah 20 tahun di sini" dan tiba-tiba jiwa kepo jurnalis  ku secara alamiah keluar 😂 dan ahamdulillahnya jiwa informannya doi juga keluar, cucok ya khann hahaha.


  • Perlindungan hukum dan aturan yang jelas oleh Pemerintah setempat.

Hong Kong ini negara kapitalis yang benar-benar sedetail itu dan tegas dalam membut aturan. Semua-mua nya diatur termasuk hak dan kewajiban pekerja di HK. Hm, gausah hak dan kewajiban pekerja deh, mau naro palang air di rumah sendiri aja ada aturannya 😅. Ini yang membuat angka kriminalitas di HK cukup kecil diantara negara maju lainnya. (Source)

Bokkkk, di sini orang jarang berantem fisik. Paling banter kalau berantem ya perang klakson di jalan atau ya teriak depan-depanan satu sama lain. Karena kalau sampai menyentuh atau melukai orang lain, dosanya besarr kalo di HK mah. Seluruh penduduk HK tau itu, bisa berabe kalau berurusan sama kepolisian.

Begitu juga halnya dengan buruh migran di HK. Dalam hal pekerjaan, mereka punya hak libur satu hari dalam seminggu. Kalau engga libur, ya berarti majikan harus nambah uang lembur. Selain itu pemerintah HK juga mengeluarkan tanggal-tanggal libur untuk para buruh migran dalam setahun. Jadi para majikan harus mengizinkan mereka off kerja di hari-hari tersebut. Kalau sampai hak mereka tidak bisa dipenuhi oleh majikan, ya siap siap aja si majikan kena tegur pemerintah. Begitu juga sebaliknya. Kalau si pekerja ini macam-macam, ya pasti ada konsekuensinya. Ini lah yang membuat buruh migran betah di HK, hukum dan aturannya jelas. Pemerintah memandang buruh migran ini sebagai pekerja, sama dengan pekerja lain non ART.


  • Penghasilan

Di luar administrasi agen penyalur buruh migran yang ribet kalau dijelaskan di sini (selain itu juga aku ga paham banget sih soal agen penyalur di HK 😅), adanya standar minimum gaji yang cukup tinggi (jika dikurskan ke Rupiah) dibandingkan bekerja di negara lain juga membuat buruh migran memilih HK jadi negara tujuan. Upah minimum mereka perbulan (cmiiw) adalah HKD 4.520. Nilai tersebut sudah sepaket dengan skill buruh migran (Sebelum mereka terjun ke HK, para agen memberikan pelatihan seputar kerumah tanggaan, bahasa, masak, dsb). Jadi masuk ke HK dan terjun kerja ga bingung mau ngapain. Pengalaman semakin banyak, yang dikerjain juga makin kompleks, skill juga lebih banyak, bisanya gajinya akan di atas itu.

Oiya, buruh migran di Hong Kong juga punya jobdesc yang ga bisa diganggu gugat sesuai dengan kesepakatan di awal dengan majikan. Misalnya si X dihire ngurusin orang tua, yaudah mereka ngurusin orang tua aja tuh, mulai dari kepala sampai ujung kaki, dari bangun tidur sampai tidur malem lagi. Ya walaupun banyak juga yang memfleksibelkan diri.

Nah, gaji HKD 4.520 ini menurut beberapa informan cukup banget untuk menabung dan dikirim ke keluarga di kampung halaman. Bagaimana engga, mereka hidup bersama majikan dan majikan diwajibkan memenuhi kebutuhan (dasar) mereka. Jadi istilahnya, untuk hidup di HK temen-temen buruh migran gak perlu mengeluarkan biaya. Jadi, gajinya bisa diatur dan dikirim ke keluarga di kampung halaman.


  • Majikan yang super judes dan galak tapi baik.

"Saya sama yang ini sudah sembilan tahun dan iya bener kalau orang C udah percaya sama orang, dia akan loyal banget dan percaya. Kayak saya, sekarang yang ngatur rumah majikan itu saya, majikan saya suka tugas keluar negeri, saya jadi resah kasian anak-anaknya. Saya juga udah capek kerja, pengen pulang ke Indonesia tapi gak boleh sama majikan. Tapi memang menurut saya enakan kerja sama orang lokal daripada kerja sama orang Indonesia di sini hehe, apalagi orang M (disensor aja ya buibu), karena maaf ya bu (Sambil ketawa) orang M yang di sini suka ngerendahin orang Indonesia. Padahal negara tetangga, satu rumpun tapi sedih banget sampai segitu direndahkannya"
"Hmm.. kayaknya ga cuma org M deh, rata-rata org kita banyak yang dipandang sebelah mata sama yang lain"
"Iya bu memang, tapi kalau orang M ini kebangetan deh.. makanya mending saya cari orang lokal aja. Tapi ya ga semua sih, rata-rata gitu. Tergantung rejeki. Tapi kalau sama orang lokal, mereka memang keras tapi kalau udah percaya ya jadinya baik banget. Yah gimana kitanya lah, harus pinter-pinter. Sebaliknya, kalo misalnya kita bikin kesalahan kecil aja, udah deh bener-bener ga kepake lagi sama mereka". 



Kurang lebih seperti itu lah insight mengapa para buruh migran rela jauh-jauh kerja di HK. Tapi mau sampai kapan perempuan harus pergi jauh dari keluarganya dan kerja di negara lain 😭 kasian sih sebenarnya. Ya selain tuntutan hidup, kerja di dalam negeri pun susah. Coba deh kalau kita tengok di dalam negeri, udah ada kah aturan untuk pekerja domestik seperti asisten rumah tangga ini? Selain itu, kebanyakan orang di dalam negeri masih berpikir kalau pembantu ya kastanya di bawah. Dan ga ada standar gaji untuk mereka.  Tapi di sisi lain, kalau pun ada standar gaji apakah kita rela bayar gaji mereka sesuai standar yang berlaku? Kalau bisa mah dapet asisten rumah tangga yang bisa ngerjain A sampai Z tapi gajinya dipress banget, tak ada libur pun. Heheh.. kayaknya ga yakin sih ART dan pengguna jasa ART di dalam negeri siap kalau pemerintah ikut campur dalam hal ini. Belum lagii, mbak-mbak ART ini kadang ada yang nyeleneh. Ya di HK juga ada sih yang nyeleneh tapi ya balik lagi, kalau nyeleneh macem-macem bisa langsung ditindak oleh pemerintah.

Ya memang sudah mulai beberapa penyalur yang mematok gaji sesuai dengan skill dan kemampuannya dan ya mungkin sudah ada aturan mengenai ART ini, tapi apakah sudah dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku?





Read More

Pottinger Street, Surganya Baju Karakter di Hong Kong.

March 4, 2019

5 comments

Sejak Zayd masuk playgroup, aku jadi lupa bahwa sekiranya akan makin banyak acara terkait si anak. Entah itu sports day, CNY party, dan yang baru-baru ini aku dapat email kalau hari Kamis tanggal 7 Maret nanti akan ada World Book Day. Yang manaa anak-anak diharapkan memakai kostum karakter sesuai dengan buku favorit mereka. Zayd sebulanan ini suka banget baca bukunya Eric Carle yang  judulnya The Very Hungry Caterpillar. Sampe hapal doi cerita di tiap halamannya. Mau diganti buku lain emoohh gak mau. 

Bhaikk.. karena itu lah, aku berniat mencari kostum Caterpillar. Wihuuu.. dimana yaa carinya? Udah tanya kanan kiri, katanya buanyak banget di Pottinger Street, Sham Sui Po, Toy Street. Dan dikasih tau, jangan beli di toko-toko kostum yang ada di mall-mall semacam Toys R Us karena.. ya apa lagi kalau bukan karena mahal nya minta ampun. Tadinya mau nitip ke temen yang doyan olshop via TaoBao, tapi karena takut ga nyampe sesuai dengan perkiraan, jadi yasudah mari kita tekadkan niat untuk pergi ke Pottinger Street! 

Kenapa gak ke Sham Sui Po atau ke Toy Street? Karena kalau ke Sham Sui Po kok kayaknya jauh banget, harus nyebrang ke Kowloon Side (padahal mah ya deket-deket aja sih kalau di Hong Kong ini 😅) dan kalau ke Toy Street, sama-sama di Hong Kong side tapi yang banyak pilihan ya di Pottinger Street ini. 

Akhirnya sampailah kami di daerah Central, tempat Pottinger Street ini berada. Jackpotnya, ternyata Pottinger Street ini bertangga dan terjal. Ditambah, Zayd ga mau jalan sendiri, maunya digendong Ibu. Baiklah pemirsaa...

Anyway, ga sempet foto-foto banyak di Pottinger Street karena mood udah keburu rontok berkeping-keping karena harus naik tangga dan gendong Zayd. Jadi, Pottinger Street ini semacam alley atau lorong nanjak gitu (seperti di foto atas) yang di kanan dan kirinya banyak banget orang jualan kostum-kostum karakter, mau apa aja ada dan yang paling aku suka adalah harganya mursida buibuu. Cocok banget buat yang pengen cari baju badut, topeng-topeng atau baju karakter, dari buat anak-anak sampai buat dewasa, ada semua.



Setelah masuk ke beberapa toko kostum, akhirnya kami menumukan kostum caterpillar seperti yang ada di foto di bawah ini. Gak persis banget sama karakter yang dibuku sih, tapi yang jelas DAPET! alhamdulillahhhh.. Sayang sekali pas sampe rumah Zayd ga mau dipakein baju karakter ini 😅😂 so sad! Semoga pas hari H Zayd mau deh dipakein baju caterpillar ini.



Nah, pas lagi IGS-in suasana di Pottinger Street kemarin, tiba-tiba ada yang DM "gak berniat buka jastip baju karakter/ topeng spiderman kak?" #eaaaaa.. 


Love,
Puput.
Read More
Copyright © PUPUT UTAMI. Blog Design by SkyandStars.co