Daily Style

Daily Style
Daily style, ootd, fashion inspiration, and etc

Personal Life

Personal Life
About the wedding, family, being a mum, being a wife, etc

Lifestyle

Lifestyle
reviews, youtube update, lifestyle update, socmed update, travel, skincare, beauty, etc

Thoughts

Thoughts
My thoughts about everything, quotes, etc

TENTANG KELAHIRAN SHAFIYYA

August 12, 2020

No comments

Kelahiran bayi kami yang ke-dua ini lahir di era yang bisa dibilang spesial. Karena.. ya tau lah, sampai blog post ini ditulis Dunia sedang digemparkan dengan virus baru yang berasal dari salah satu district di Tiongkok sana dan menyebar sampai kebeberapa negara, termasuk Indonesia. Dampaknya, selain penutupan beberapa tempat umum dan fasilitas publik, masyarakat juga 'dipaksa' untuk lebih bisa menjaga kebersihan, lebih menjaga kesehatan dan pakai masker dimana pun. Kita doakan semoga wabah ini segera berakhir ya.. dan masyarakat Indonesia pada khususnya, bisa lebih aware sama kebersihan dan kesehatan. aamiin.

Flashback sedikit. Sejak saat masih di ruang operasi sewaktu akan melahirkan Zayd, aku bertekad insyaAllah anak ke-2 nanti harus melahirkan secara normal karena kapok dengan prosesi operasi sesar. Begitu akan mendekati due date kelahiran anak ke-2, karena kesempatannya masih besar untuk normal, jadi aku memilih untuk menunggu kontraksi agar bisa melahirkan secara alami. Segala persiapan dan ikhtiar agar bisa melahirkan secara normal dilakukan. Termasuk menjaga volume air ketuban agar tetap cukup untuk melahirkan secara normal. Karena, faktor ketuban adalah salah satu alasan mengapa pada kelahiran anak pertama aku harus sesar.

Seharusnya pada usia kehamilan memasuki usia 32 minggu, jadwal kontrol sudah semakin rutin. Biasanya 2 minggu sekali. Namun karena pandemi dan agar tidak terlalu sering berada di tempat umum (rumah sakit) akhirnya diputuskan untuk tetap kontrol sebulan sekali selama tidak ada keluhan apapun. Memasuki usia 36 minggu pun yang seharusnya seminggu sekali kontrol, mau tidak mau kontrol harus dilaksanakan satu seminggu sekali, untuk memantau ketuban, berat badan bayi (harus maksimal 3kg) dan posisi bayi. Alhamdulillah hasil pemeriksaan saat itu bagus dan siap melahirkan. Tinggal tunggu kontraksi saja. 

Selain berat badan bayi yang terus dipantau karena aku berencana untuk VBAC (vaginal birth after cesarian), dokter juga harus memantau ketebalan bekas jahitan pada kelahiran pertama. Karena, untuk VBAC ini tidak boleh dibantu oleh alat dan metode apapun (induksi), kecuali induksi alami. Jadi, akan terjadi VBAC apabila semua-semuanya terjadi secara alami, terutama kontraksi. Saat itu, jika aku mau lahiran normal target dokter sebelum lebaran (usia kandungan 37-38 weeks) harus lahiran alami. Di atas itu (dengan mempertimbangkan bb dan ketebalan sisa jahitan) mau gak mau harus operasi, karena risikonya tinggi.

Usia kehamilan hampir 39 minggu, (lewat lebaran tentu saja) gelombang cinta itu tak kunjung datang. Sedangkan berat badan bayi sudah menyentuh 2,7 kg. Setelah konsultasi sebelumnya via whatsapp akhirnya kami putuskan untuk melahirkan secara operasi. Usia 39 minggu lewat 2 hari kami kontrol ke dokter untuk memastikan apa masih ada posibility melahirkan secara normal hehe ya namanya juga usaha. Setelah diperiksa, berat badan adik sudah 2,9 kg dan ketebalan jahitan sudah 3,1 mm (cmiiw jujur lupa untuk ketebalan jahitan, nnt diupdate lagi ya) sedangkan batasnya bb bayi max 3 kg dan ketebalan sisa jahitan tidak boleh kurang dari 3mm. 

Saat itu dokter bilang "sebenernya kalau diinduksi dikit aja, saya yakin bisa lahiran malam ini juga. Tapi masalahnya kamu sebelumnya operasi, jadi saya ga berani kasih induksi. Resikonya besar". Jadi, bismillah akhirnya operasi lagi.

---

Melahirkan di Saat Pandemi




Kalau gak salah bulan April, pemerintah daerah sudah mengeluarkan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) karena pandemi ini semakin menjangkiti banyak orang dan memakan korban. Harus mematuhi protokol kesehatan (pakai masker dimanapun, cuci tangan dengan sabun/ handsanitizer, social dan physical distancing serta menjaga imun tubuh), Sekolah dan kantor dilakukan secara daring dari rumah, menghindari tempat umum dan kerumunan, bahkan mall sekalipun tutup kecuali supermarket/ pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari, kapasitas penumpang dalam kendaraan maksimum 50% dari kapasitas sebenarnya dan sebagainya demi menekan angka yang terjangkit virus ini.

Jujur yang tadinya awalnya agak santai, lama-lama khawatir melihat perkembangan ini. Aku mulai mencari tahu informasi melahirkan di era pandemi ini. Semakin mencari tahu, semakin mendapat informasi dan semakin khawatir. Sampai akhirnya aku dan suami memutuskan untuk langsung konsultasi dengan dokter via whatsapp. Alhamdulillah obgyn ini sangat tanggap jika dihubungi via chat. Intinya, tidak usah khawatir, tetap ikuti protokol kesehatan, jaga imun tubuh, insyaAllah semua lancar. aamiin.

Menjelang persalinan, ada beberapa protap (protokol tetap) yang harus dilakukan oleh setiap Ibu yang akan melahirkan, antara lain menunjukkan hasil rapid test non reaktif yang masa berlakunya satu minggu, tidak boleh ditemani saat proses melahirkan, hanya boleh ditemani 1 orang saat di ruang rawat inap dan tidak diperkenankan menjenguk pasien. Bismillah... insyaAllah semua ada hikmahnya, akhirnya kami menanda tangani surat persetujuan, administrasi rumah sakit, dan ditetapan insya Allah tanggal 28 Mei 2020 akan dilakukan tindakan operasi caesar.

---

Detik-detik Melahirkan



28 Mei 2020 pukul 06.00 pagi setelah drama abang Zayd nangis pengen ikut (kebangun karena aku cium sebelum berangkat ke rumah sakit 😓) kami meluncur ke rumah sakit. Setelah serangkain prosedur rumah sakit akhirnya kami diantar ke ruang rawat inap menunggu untuk dilakukan pembedahan pada pukul 12.00 WIB. Berusaha tetap tenang, meskipun tetap deg-degan dengan perbanyak dzikir dan baca Al-Qur'an. 

Nah, karena lahiran kali ini spesial tanpa sederetan keluarga yang menemani, aku dan suami sudah merencanakan/ bagi tugas tentang apa-apa yang harus kami lakukan selama aku melahirkan. Misalnya, ketika bayi keluar suami terus mengikuti bayi sampai ke ruangan bayi untuk diadzani, pengurusan ari-ari dan sebagainya. Sedangkan tugasku ya insyaAllah melahirkan aja lah 😂 dan insyaAllah sudah menyiapkan mental kondisi tubuh pasca operasi (Pada kelahiran pertama, pasca operasi aku menggigil parah dan nge-fly efek obat bius).

Pukul 11.30 dijemput suster dan dibawa ke ruangan operasi. Suami menunggu di luar ruang operasi dan ga boleh masuk ke ruangan transit sekalipun. Jadi, masuk ruang transit udah sendiri aja tuh sambil tiduran. Sambil menenangkan diri dan menunggu diri ini dibawa ke ruang operasi, tiba-tiba obgyn ku datang dari (kalau ga salah) ruangan ganti baju. Langsung deh nyapa "Puut, gimana udah ready? grogi gaa?" #eak santuy banget ni dokter hehehe alhamdulillah. Yaudah, beberapa menit kemudian aku ganti jilbab operasi dan dibawa masuk ke ruang operasi. HM....

Aku berusaha merekam detik detik operasi ini sebaik-baiknya, menerka nerka apa saja yang para dokter dan para suster lakukan di ruang operasi. Setelah disuntik spinal, aku disuruh terlentang di meja operasi. Disuruh angkat kaki, aku nurut. Eh tapi kok kakinya ga baal, masih berasa dan masih bisa gerak. Aku masih bilang sama dokternya, "Dok.. jangan dibelek dulu dokk. ini kaki saya masih bisa diangkat". Deg-degan coy kalo obat biusnya gak bekerja. Dokternya ketawa aja 😅 sambil bilang "lah ini udah saya sayat kok, gak berasa kan?" HMM...  eh bener aja, pas lihat dari pantulan kaca lampu operasi di atas, darahnya udah banyak yang keluar 😅. Sambil bilang sama susternya, untuk menggeser kaca lampu di atas agar aku gak bisa ngelihat perut aku dibelek. 

Dalam hitungan detik, dokter mendorong perutku dari atas ke bawah, kemudian "Plek" alhamdulillah Shafiyya Aliya Nafisa lahir ke dunia dengan tangisan yang sangat kencang. Susternya sambil nanya, "Bu.. di USG bayinya laki-laki atau perempuan bu?", "Perempuan, sus", "yak alhamdulillah adek bayinya udah lahir ya bu.. perempuan. Selamat ya bu". Setelah Shafiyya dibersihkan, langsung diletakkan di dadaku untuk IMD. Jujur IMD kali ini agak lama ya dibandingkan waktu Zayd dulu. Ya even ga lama lama amat hehe. Tapi alhamdulillah Shafiyya langsung nyaplok nipple ibuknya. Tak lupa prosesi ini diabadikan oleh suster yang bertugas. Setelah itu, Shafiyya diobservasi dan dibawa keluar ruang operasi untuk dibawa ke ruangan bayi.



Alhamdulillah melahirkan sudah selesai, tinggal menggigilnya. Setelah keluar ruang operasi dengan kondisi yang alhamdulillah sesadar-sadarnya dan sesegar segarnya, di ruangan transit aku terus dzikir dan menunggu sensai menggigilnya datang. Tidak lama kemudian kasur rawat inapku datang dan aku dipindahkan ke kasur rawat inap. Setelah itu aku dibawa keluar pintu ruang operasi depan dengan kondisi yang alhamdulillah masih segar, belum menggigil. Di sana, ketemu suami yang lagi nungguin dan kami dadah dadahan 😅 Suami sambil senyum lebar dia nanya "Udah selesai?", "Alhamdulillah Udah" balas aku. 

Sampai di ruang rawat inap, aku masih nunggu sensasi menggigil. Suami nanya "kok kamu kayak gak abis operasi? tidur gih istirahat dulu". Jujur saat itu aku seger se seger segernya, gak bisa tidur dan masih menanti sensasi menggigil. Aku bilang ke suami "Kok aku belum menggigil yah ?! oh mungkin nanti malem kali ya menggigilnya". Begitu malam tiba, adek bayi diantar ke ruanganku dan kami belajar menyusui deh hehe. Eh tapi kok gak menggigil juga kita??. Saking penasarannya sampai tanya suster "Sus, kok saya gak menggigil ya?", jawaban suster cuma "Mungkin ibu obat biusnya yang bagus kali ya bu". Dalam hati cuma bilang "alhamdulillah, tapi masa iya?". Ini akan jadi PR untuk nanya ke dokter kalau ada dokter visit hehehe. Tapi alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.. segala puji bagi Allah, alhamdulillah kami dikaruniai 2 malaikat kecil yang insyAllah akan menjadi penyejuk mata dan hati kedua orang tuanya, anak-anak yang taat dan dekat dengan Allah SWT aamiin YRA.



Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT yaa manteman. Mohon doanya untuk Shafiyya.

Salam,
Puput Utami.

Read More

DISINAR (PHOTOTERAPHY/ FOTOTERAPI)

June 22, 2020

No comments


Seminggu setelah adik lahir, waktunya untuk check up ke DSA untuk timbang berat badan yang harus/ paling tidak berat badannya seperti saat berat badan lahir dan periksa bilirubin. Dua hari sebelumnya, aku sempet "Deg" ketika mendengar komen bahwa adik terlihat kuning. Seketika malam setelah mendengar komen itu, aku jadi mellow. Curhat sama suami, beliau bilang gak usah dengerin komentar-komentar, kita dengar langsung saja komentar DSA.

Hari kontrol ke DSA tiba. Udah deh pasrah aja sama Allah SWT. Ketika timbang berat badan, alhamdulillah bb nya udah balik modal dari bb lahir, selain itu motoriknya juga alhamdulillah bagus, tinggal cek kuningnya aja nih. Dokter bilang, memang anak kami terlihat kuning, maka dari itu adik dirujuk untuk periksa bilirubin di lab.  Lalu dokter tanya, golongan darah ku dan adik apa. Ternyata salah satu penyebab kuningnya itu adalah adanya ketidak cocokan darah kami berdua, atau disebut juga ABO incompability. Ini pasti terjadi jika sang Ibu bergolongan darah O dan si bayi bergolongan darah selain O, misal A, B atau AB. 

---
Perbedaan darah antara Ibu dan bayinya saat dalam kandungan sebenarnya tidak menjadi masalah. Tapi saat si bayi lahir dan terpisah dari tubuh Ibunya, otomatis tubuh si bayi menganggap darah O yang ada di dalam tubuhnya sebagai benda asing, sehingga sel darah putihnya memecah si sel darah O dan hasil pemecahan itulah yang menjadi bilirubin. Kasus ini alhamdulillah gak terjadi waktu zamannya Zayd, karena kebetulan golongan darah Zayd sama dengan golongan darah ku. Zayd tetap kuning, tapi kuningnya gak sampai yang bikin disinar di rumah sakit.

---

Melihat anak sendiri diambil darah hati ini rontok. Anak sekecil itu diambil darah, lama pula huhuhu. Tapi mau gimana lagi.

Satu jam kemudian hasil bilirubin keluar dan  menunjukkan bilirubin adik lewat dari kadar bilirubin standar normal. Otomatis dokter menyarankan untuk di fototerapi/ phototeraphy di rumah sakit selama 2 hari. InsyaAllah kata beliau setelah difototerapi/ disinar, kadar bilirubinnya turun. Awalnya sempet ragu, masa berangkat ke rumah sakit bawa anak, pulang ke rumah anaknya ditinggal di rumah sakit? hiks. Sempet denial dan meyakinkan dokter untuk bisa dirawat di rumah. Dokter mengiyakan, dengan catatan kalau ada apa-apa segera ke rumah sakit. 

Giliran dokter setuju sama permintaan aku, aku nya jadi jiper sendiri hehe. Bagaimana dengan suami? suami sebenarnya lebih prefer ikut saran dokter, tapi menyerahkan keputusan ke aku karena beliau paham sikon psikologis aku saat itu yang baru lahiran, bekas lahiran masih nyut-nyutan, anak musti dirawat di rumah sakit pula. 

Sampai pada akhirnya aku putusin adik bayi disinar aja huhu Bismillahirrahmanirrahim.

Setelah mengurus administrasi, adik langsung dibawa ke ruangan fototerapi. Di sana sudah ada satu bayi laki laki yang juga sedang disinar. Di ruang fototerapi aku masih bisa nanya nanya sama bidan, apa yang harus dibawa untuk keperluan adik selama disinar dan aku dipersilahkan untuk menyusui dulu sebelum adik ditinggal di rumah sakit. Tapi karena sebelum ke ruangan bayi aku sudah menyusui adik, jadi waktu disusui lagi adik ogah-ogahan. Entah kenapa jadi makin mellow huhu.

Barang-barang yang harus aku siapkan selama adik di rumah sakit (kira-kira untuk 2 hari 2 malam)
  1. Diaper/ popok bayi sekali pakai
  2. Tisu basah
  3. Peralatan mandi
  4. ASIP (asi perah)
  5. SUFOR (untuk jaga-jaga. Karena yang namanya bayi disinar memerlukan banyak cairan). Dan sufor ini sudah aku dapat dari rumah sakit waktu melahirkan, jadi gak perlu beli lagi.
Alhamdulillah di rumah ada sedikit stok ASIP, jadi setidaknya sehari 2 kali aku setor ASIP ke rumah sakit untuk diberikan ke adik. Tapi aku juga menandatangani surat persetujuan rumah sakit untuk memberikan sufor kepada adik. 

Setelah menyusui, aku menyerahkan bayiku sambil melihat treatment para bidan ke bayi yang sudah disinar lebih dulu. InsyaAllah aku mantap dengan pelayanan rumah sakit tempat aku melahirkan ini. Akhirnya kami pamit ke bidan yang sedang bertugas saat itu untuk pulang ke rumah dan menyiapkan kebutuhan adik di rumah (Alhamdulillah jarak rumah ke rumah sakit gak jauh). Begitu keluar rumah sakit, pak hasben langsung merangkul pundak dan memeluk aku sambil jalan menuju tempat mobil kami diparkir. Yahhhh... langsung merebes mili dong hahaha. Padahal udah nahan nahan gak nangis dari tadi. Untung ketutupan sama masker dan kacamata, jadi gak kelihatan kalau lagi nangis hehe.

--
Selama 2 hari 2 malam itu kami bolak balik rumah sakit untuk menyerahkan ASIP. Alhamdulillah hari terakhir adik disinar, aku ditelfon rumah sakit kalau anakku sudah bisa pulang karena bilirubinnya sudah turun. Pesan DSA anakku saat itu ada dua: harus dijemur setiap hari, diantara pukul 07.00 - 08.00 dan diberikan ASI secara langsung sesering mungkin,  jangan dikasih ASI perah.

Alhamdulillah akhirnya adik pulang ke rumah. Abang Zayd gak sabar nunggu adik pulang karena mau kasih hadiah buat adik, masyaAllah.

Semoga dikontrol dan imunisasi pertama adik nanti berjalan lancar, dan sehat-sehat semuanya. aamiin
Read More

Kehamilan Kedua Ini...

March 10, 2020

1 comment
Kehamilan kedua ini sungguh bertolak belakang dengan kehamilan pertama. Asli deh! Kayaknya hamil pertama akutuh macho banget, rasanya alhamdulillah gak ada side effect. Yaa kalau mual mual ya wajar lah ya, namanya juga hamil. Tapi yang aku inget sih, waktu hamil Zayd lalu kalau mual ya tinggal ditambal sama makanan aja, beress. Berkali kali nanya sama mamaku, "mah..waktu hamil Zayd kok gak gini atau gak gitu yah", jawaban beliau pasti "Yaaa..mbak udah lupa, sama aja kali. Namanya juga hamil". 

Nah, kalau udah dibilang kayak gitu, jadinya gak jadi mau ngeluh. Tapi sumpah hamil kali ini rasanya jompo, mualnya dua kali lipat bahkan alhamdulillah sempet ngerasain m*ntah beberapa kali, sensitif sama beberapa jenis makanan dan bau-bauan dan sebagainya. 

Tapi kalau dilihat-lihat lagi ya memang kondisi hamil pertama dan hamil kedua beda. Hamil pertama, cuma fokeus ngurusin diri sendiri (hamil 5 bulan pertama LDR sama kekasih), banyak googling tentang kehamilan, duh super duper smooth.. Kerja juga nyaman kayak gak hamil walaupun perut udah mancung heheh. Kalau hamil yang sekarang, alhamdulillah ngurusin bayi gede dan bayi kecil (Zayd dan bapaknya) karena alhamdulillah kami sekarang ngumpul komplit. Senengg walaupun jadinya rempong dan entjok dimana-mana. Walaupun juga sekarang dibantuin sama orang tua, tapi tetepp azaa. Mau hire asisten tapi belom dapet hiks.. (oh Allah kirimkan hamba mbak asisten yang baik, jujur dan amanah dalam bekerja.)

Alhamdulillah saat ini udah masuk usia kandungan tujuh bulan. Doain yah semoga lahiran lancar tanpa drama, anak dan ibu sehat tanpa kurang satu apapun,  semoga dapet mbak buat bantu-bantu aku di rumah, semoga Allah memberikan rezeki sehat, materi, non materi dan sebagainya. Aamiinnn



beautifully captured by @olanatics
Read More

Pepsodent Siwak Launching Event

February 5, 2020

2 comments












Assalammu'alaikum warahmatullah wa barakatuh. Setelah sekian lama hiatus dari dunia per-event-an, alhamdulillah beberapa waktu lalu akhirnya pecah telor deh dateng lagi ke acara yang diselenggarakan oleh Pepsodent di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Kalau soal "Pepsodent" pasti teman-teman sudah banyak yang tahu, tapi kali ini mungkin teman-teman baru tahu karena Pepsodent baru saja meluncurkan varian barunya yang diberi nama "Pepsodent Siwak". Apa sih yang spesial dari Pepsodent Siwak?
---

Saat aku memasuki area Rumah Maroko, tempat diselenggarakannya peluncuran produk terbaru dari Pepsodent ini, ambience nya sudah berbeda. Selain memang interior desain dari Rumah Maroko ini yang ke-Timur Tengahan, juga dekorasi dari Pepsodent menambah kesan ke Timur Tengah-an itu. Apalagi yang akan diluncurkan saat itu adalah varian Siwak yang mana banyak digunakan oleh masyarakat di Timur Tengah. Walaupun ternyata (aku baru tahu pada saat di launching event ini) bahwa Siwak gak hanya dipakai oleh masyarakat Tim-Teng, tapi juga masyarakat di negara lain. Hanya, namanya saja yang berbeda.

Lalu, mengapa Pepsodent akhirnya memilih dan meluncurkan varian Siwak ke tengah masyarakat Indonesia?

Karena seperti yang sudah kita tahu bersama bahwa siwak mengandung banyak kebaikan untuk kesehatan gigi dan mulut. Hal tersebut sudah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Muslim sejak lama. Bahkan banyak dalil yang isinya anjuran untuk ber-siwak. Bersiwak merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan beliau sendiripun sangat bersemangat untuk melakukannya, hingga beliau bersabda : 

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ

"Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap akan shalat" (HR Bukhori & Muslim, Irwaul Ghalil No 70)*

"Dengan kandungan ekstrak siwak yang dilengkapi mint alami, inovasi ini dapat merawat kekuatan gigi sekaligus memberikan kesegaran nafas yang lebih tahan lama", ungkap Distya Tarworo Endri selaku Senior Brang Manager Pepsodent, PT Unilever Indonesia, Tbk yang saat itu juga hadir dalam launching Pepsodent Siwak ini.

Oiya, balik lagi tentang penggunaan siwak yang tidak hanya ada di lingkup masyarakat Muslim saja, Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc, selaku pakar kesehatan gigi dan mulut juga menuturkan bahwa Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 1984 merekomendasikan siwak sebagai bahan yang efektif untuk merawat kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai penelitian modern yang menunjukkan bahwa siwak efektif menghambat dan mematikan pertumbuhan bakteri, menguatkan permukaan email gigi sehingga mencegah timbulnya gigi berlubang.

Tidak hanya acara peluncuran produk terbaru Pepsodent saja, dalam event tersebut kami diberi tahu bahwa peluncuran Pepsodent Siwak ini juga mengajak masyarakat untuk berbagi melalu program yang diselenggarakan bersama BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Jadi, Pepsodent akan mendonasikan 2,5% dari laba setiap kemasan Pepsodent Siwak yang terjual untuk memperbaiki kesehatan gigi dan mulut anak yatim piatu di berbagai wilayah Indonesia. Artinya, siapapun bisa menjadi Pahlawan Senyum dengan membantu membebaskan sebanyak mungkin anak Indonesia dari permasalahan gigi dan mulut.

---
Yang berkesan buatku dalam peluncurkan varian Pepsodent Siwak, tidak hanya komunitas saja yang diundang, tapi pihak Pepsodent juga mengundang teman-teman/ adik-adik dari Rumah Yatim Rawa Sari. Dan kamipun, para undangan, dipersilahkan duduk berbaur bersama adik-adik dari Rumah Yatim tersebut. Gak cuma itu, kami juga sempat ngobrol bareng, bikin activity bareng, foto bareng sampai tukeran hasil karya dan kata-kata/ pesan-pesan untuk satu sama lain yang kami buat pada saat acara. Dasar emang matakuh gampang banget banjir dan hatiku tuh emosional banget yah.. melihat anak-anak tersebut hati tuh terenyuhhh, jadi bikin kangen anakku di rumah pas acara heuheu 😥

Acara peluncuran Pepsodent Siwak ini juga dimeriahkan oleh sand art performance, The Smile Project (dimana semua undangan diajak untuk menghias cover notebook yang sudah dibagikan sebelumnya dengan alat-alat yang telah disediakan panitia, kemudian kami diminta untuk menuliskan kesan dan pesan untuk adik-adik dari Rumah Yatim Rawa Sari) dan diakhiri dengan foto bersama. Alhamdulillah acara yang diselenggarakan berjalan dengan lancar. 

Oiya, satu lagi yang seru, Jadi, sesaat sebelum acara dimulai para undangan dipersilahkan untuk berfoto 3 gaya. Aku pikir yaa buat seru-seruan aja (lebih tepatnya gak terlalu memerhatikan arahan sister-sister among tamunya sih hehe). Setelah foto, kami diminta meninggalkan nomor handphone dan diberikan nomor yang ditempelkan di pakaian kami masing-masing. surprisingly, saat sedang menikmati jalannya acara, tiba-tiba aku dikirimi sticker personalize ini..hehehehehe. Lumayaaan khaan buat sticker lucu-lucuan di whats app.


Thank you dan selamat untuk peluncuran varian terbaru Pepsodent Siwak. Yuk, bareng-bareng kita sukseskan program #PahlawanSenyum dari Pepsodent!

Salam,
Puput Utami 

Read More

Sayang, Aku Hamil (II)

January 30, 2020

4 comments
Sepulang menunaikan ibadah haji, aku kembali ke Indonesia untuk menjemput anakku dan kembali lagi ke Hong Kong untuk melanjutkan rencana selanjutnya, yaitu pindahan. Kenapa dijemput kalo toh bakal balik lagi ke Indonesia? selain kasihinilah kami sudah terpisah sebulan lamanyaa.. proses pindahan ini masih abu-abu, belum tahu kapan tepatnya kami akan boyongan/ pindah. Jadi, karena belum pasti, yawes kami bertiga balik lagi ke HK sambil memersiapkan apa-apa saja yang akan dipacking untuk pindahan.

Selama bolak-balik HK-JKT, 'oleh-oleh' batuk/ flu dari timur tengah masih saja nempel di badan kami, para jamaah haji, yang baru pulang dari Tanah Suci, termasuk aku. Kali ini batuknya persisten sekali, sampai di (maaf) dahak pun ada sedikit bleeding. Gak cuma di dahak, tapi cairan dari hidung juga ada bleeding. Manusia mana yang gak panik ketika batuk berdahak campur darah 😓. Saat menginjak HK dari Tanah Suci pun sudah langsung cek ke dokter dengan menceritakan gejala-gejala yang terjadi. Sampai di MRI segala. Oiya, saat itu gak berani bilang ke rumah sakit HK kalau aku baru saja pulang dari Timur Tengah. Alasannya? bisa gaswat lah kalau aku bilang baru pulang dari TimTeng, lalu aku batuk berdahak darah dan lain lain. Benar saja, salah satu jamaah haji yang batuk flunya juga gak sembuh-sembuh harus di isolasi karena dicurigai terkena virus MERS (Middle East Respiratory Syndrom). Kalau dibaca di wikipedia sih, salah satu pencetus MERS ini karena deket-deket sama Unta. Padahal selama di tanah suci kami gak pernah ketemu Unta 😅. Syukur Alhamdulillah beberapa hari kemudian, si bapak jamaah haji ini dinyatakan tidak terkena MERS. Yaiyalaaaaaah.

Sampai ke Indonesia, aku langsung mengadu kepada dokter di Indonesia. Alhamdulillah karena mungkin Jamaah haji nya paling banyak dan tiap tahun pasti ada yang berangkat ke Tanah Suci, jadi menjelaskan gejala, penyebab, kondisi kita lebih santuy! Karena ya pasti lah gejalan batuk flu berdarah ini gak langka. Bener aja, kalau kata dokter batuk flu ini ya karena perbedaan cuaca yang ekstrem ditambah lagi kondisi tenggorokan yang kering. Batuk flu ini dikategorikan pada batuk kering (kalau gak salah, silahkan digoogling sendiri yah di google hehe). Alhamdulillah setelah ketemu dokter dikasih obat ini itu, akhirnya sembuh 😭😭 MasyaAllah begitu berharganya kesehatan yahhhh.

Sepulang haji, harapannya pengen hamil lagi. Tapi ternyata sama Allah belum dikasi. Yaudah, sabar aja, Allah yang Maha Tahu kapan waktu yang tepat, ya kan?!

Bulan berikutnya, kalau gak salah akhir September, alhamdulilah sudah dapet ancang-ancang dari kantor suami untuk pindah ke Indonesia.  Nah saat itu, entah kenapa pengen banget alat pregnancy test (TP). Kebetulan sebelum berangkat haji, bulan Juli, sempat beli TP tapi pas ditest garisnya cuma 1 hahaha, ya namanya juga coba-coba. Oiya beli TP nya yang paling mursida aja, gak ada yang seharga Rp 3000-an di pharmacy store dekat apartemen saat itu. Jadi yaudah, pokoknya beli yang paling murah, biar kalo negatif gak rugi rugi amat *medit* wkwk. Karena baca beberapa pengalaman orang di dunia maya, kalau ternyata TP yang canggih itu gak tahan lama dan gak abadi kayak TP yang murah murah itu. TP yang aku beli di Mannings satu box isinya 2 strip harganya  29,90 HKD *hafal* haha lumayan lah satu strip harganya 15 HKD. Tetep lebih mahal di HK daripada di Indonesia 😥 

Bulan Juli itu aku TP dan negatif. Ya khaaaan, untung mursida TP nya. hahah. Jadi TP nya masih ada satu lagi dan ditinggal pergi selama sebulan.

Pulang dari Indonesia habis jemput Zayd, akhir bulan September aku pengen test lagi, tapi gak ngarep positif. Tapi, lupa lupa mulu mau test. Ya selain memang belum waktunya mens, kadang bangun tidur udah kebelet pengen pipis dan pas udah kelar baru inget mau test. Jadi yaudah ditunda deh kebesokan harinya lagi. Besoknya lupa lagi dong. Tapi ya masih ga ngarep soalnya mens masi lamaaa 3-4 hari lagi kalau gak salah. 

Nah, lusanya bangun tidur mau pipis keingetan mau nyoba test. Yaudah, diambil deh urin nya, dicelup TP stripnya sesuai petunjuk pemakaian dan pas diliat jiaaaaaaa negatif hahaha jadi senyum senyum sendiri karena kesotoyan diri ini tak terbendung. Langsung ambil wudhu, ditinggal solat, abis solat ke kamar mandi lagi mau beresin si bekas TP ini. Pas mau masukin si TP ke bungkusnya lagi, eh kok garisnya ada dua?? jadi artinya akuuuuu......... 

MasyaAllah kaget sambil ketawa sambil ngeliatin TP strip lagi, mendekat ke arah lampu karena takut itu cuman garis bayangan dari garis yang pertama. Diliat-liat lagi, masih gak percaya. Tapi sampe lama banget di kamar mandi buat mastiin beneran apa engga itu garis ada dua. tapi ini garisnya jelas dua merah, gak samar. wahahaha deg-degan.

Yauwes, buru-buru ambil wudhu lagi, bangunin suami buat solat subuh barengan. Duh, gak bisa ga ngasi tau, jadi pas siap-siap mau solat langsung bilang "Cin, aku hamil lagi". Respon suami "Hah? SERIUSS?" sambil kaget tapi muka seneng. 

👨 : "Tapi emang kamu udah telat?"
👩 : "Ya belum telat sih. Nanti deh aku test lagi kalau udah telat, kamu jangan GR dulu yak. belom pasti soalnya" (lah jadi gak pede sendiri wkwkwkwk)

Selesai solat si hasben nanya lagi, aku tunjukin aja hasil TP nya. Tapi kami sepakat beberapa hari ke depan mau test lagi. Biar yaqin, ya khan. Tapi abis TP pertama ini, walaupun belum 100% yakin hamil, aku udah banyak bet maunya wakakakakak pengen makan ini pengen makan itu.. padahal mah ya gak ngidam-ngidam juga.. ngerjain suami aja hahahaha. *peace cintaaaaah*

3 hari setelahnya, TP lagi.. Alhamdulillah ternyata beneran positip heheh. Welcome calon baby number twooo. Langsung deh bikin janji ketemu obgyn. Pas ketemu obgyn, standar deh ya ditanyain kapan hari pertama mens terakhir, kapan TP, trus ada keluhan-keluhan gak dll. Pas ditanya mens terakhir, kapan TP dan mau ngitung usia kandungannya, dokternya bilang "Lah, lu udah TP  tapi belom telat mens", sayah jawab yes yes aja sambil cengengesan. Abis itu di USG, alhamdulillahhh udah keliatan titiknya. Kurang lebih udah 5 minggu usianya pas waktu pertama kali di USG.

Drama lain lagi setelah keluar dari ruangan obgyn, ternyata pas mau bayar gak bisa pake kartu asuransi hahahahaha. Soalnya hamil ga dicover asuransi dan bukan masuk kategori sakit hehe. Udah tahu sih, tapi kan nyoba masukin kartu asuransi kan gapapa.. kali aja bisa hhehehe. Kontrol pertama waktu itu kena sekitar 750-an HKD di RS Swasta. Mau ke RS Pemerintah yang gratis tapi prosedurnya mesti minta rujuk MCHC dulu dan appointment di MCHC nya pun mesti dari jauh-jauh hari. Sedangkan kami saat itu itungannya urgent karena kurleb 2-3 minggu lagi bakal pindahan ke Indonesia. Yasutra kalo begitu.

Berbeda dengan saat hamil Zayd 3 tahun yang lalu, hamil kali ini morning sicknessnya super duper. Ngeliat wortel dan brokoli mau muntah. Padahal dua sayur itu andalan banget dalam dunia permasakan sehari-hariku. Jangankan ke pasar, masuk dapur aja bikin eneg. Gimana mau masak coba. Kasian anak dan suamiku kalau aku gak masak. Yaudah, temenan sama minyak kayu putih dan masker lah selama trimester pertama itu.

Lalu, tibalah waktu pindahan. Jadi hamil kali ini, mesti pindahan antar negara, ngurus anak dan suami, anter jemput anak, masyaAllah tenaga harus dobel sedangkan morning sicknessnya juga dobel. Waktu jaman Zayd gak pernah tuh yang namanya jackpot (mu*tah), hamil sekarang alhamdulillah sempet jackpot beberapa kali. Bener bener berasa jompo tapi tetep harus semangat ngurusin perumah tanggaan. Alhamdulillah makin tambah bulan, morning sickness nya makin berkurang sampai hari ini alhamdulillah usia adek bayi insyaAllah masuk 23 minggu. Doakan yaaa teman-teman onlineku yang masih setia baca blog ini, semoga adek bayi, ibunya, ayahnya, abangnya sehat-sehat semua.. aamiin YRA.

Saat usia kandungan 17-18 weeks kami mendadak harus segera ke Medan karena papa mertua (papanya hasben) meninggal dunia 😭 innalillahi wa innailahirajiun.. semoga papa Asrul/ Atuk husnul khatimah, dilapangkan kuburnya, diterima amal nya oleh Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal'alaminn...

the three (plus one) of us, Medan 2020.

Dan ini USG terbarunya adik bayii, insyaAllah sehat terus ya adekk. Kali ini semoga mirip ayah hahaha. Oiya tadinya pengen update di blog pas udah lahiran aja. Tapi mikir-mikir lagi gapapa lah nulis buat kenang-kenangan. Ntar kalo anaknya udah bisa baca dan baca blog ini, bisa protes pulak karena gak ada post khusus tentang kehamilan anak ke-2 😅 jangan ya nakk..



Salam,
Puput Utami

Read More
Copyright © PUPUT UTAMI. Blog Design by SkyandStars.co